Kabaratta.com
Nasional

Gunung Semeru, Sinabung, dan Merapi Ramai-ramai Erupsi, Indonesia Dalam Bahaya!

kabaratta.com – Di saat pandemi Covid-19 belum lagi berakhir dan malah semakin menjadi, bencana alam di bumi Ibu Pertiwi terjadi susul menyusul.

Belum surut banjir di Kalimantan Selatan dan belum selesai Sulawesi Barat pulih dari gempa bumi, Sabtu (16/01) pukul 17.24 WIB Gunung Semeru tiba-tiba erupsi hingga meluncurkan awan panas guguran sejauh 4,5 km.

Seakan tidak mau kalah, Minggu (17/01) pukul 16.50 WIB Gunung Sinabung juga mulai menyemburkan abu vulkanik setinggi kurang lebih 500 meter.

Lalu Senin (18/01) pagi pukul 05.43 WIB gantian Gunung Merapi yang “unjuk gigi”.

Dirangkum JakTimNews.com dari Antara News, Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta diberitakan mengeluarkan awan panas guguran dengan tinggi kolom 50 meter.

Awan panas ini meluncur ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak sejauh 1.000 meter.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, mengatakan awan panas guguran terjadi selama 112 detik dengan amplitudo maksimum 22 mm.

Selain awan panas guguran, hingga pukul 06.00 WIB juga tercatat ada enam kali guguran material yang dikeluarkan oleh Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimum 600 meter.

“Kemudian ada 32 kali gempa guguran dengan durasi 12-64 detik, tiga kali gempa hembusan dengan durasi 9-11 detik, dua kali gempa hybrid dengan durasi 9-16 detik, dan dua kali gempa vulkanik dangkal dengan durasi 10-38 detik,” jelas Hanik.

Menurut catatan BPPTKG per tanggal 14 Januari 2021, volume kubah lava Gunung Merapi sudah mencapai 46.766 meter kubik, dengan laju pertumbuhan sekitar 8.500 meter kubik per hari.

BPPTKG pun menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi, sehingga masih mempertahankan status Gunung Merapi pada level III (Siaga).

Jika terjadi erupsi besar Gunung Merapi area yang berada dalam pontensi bahaya erupsi diperkirakan mencapai radius lima kilometer dari puncak.

Mengenai erupsi Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Natanail Perangin-angin, mengatakan erupsi Gunung Sinabung terekam terjadi sekitar dua menit dengan amplitudo maksimum 44 mm.

“Saat ini Gunung Sinabung statusnya Siaga. Sehingga warga dan petani direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak, termasuk di desa-desa yang telah direlokasi,” ujar Natanail.

Natanail juga bilang bahwa radius sektoral sejauh lima kilometer di selatan-timur dan empat kilometer di timur-utara pun dalam pemantauan.

Sebab jika terjadi erupsi besar dari Gunung Sinabung, daerah-daerah dalam radius tersebut berpotensi mengalami hujan abu vulkanik.

Untuk dampak erupsi Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hingga Sabtu malam menyebabkan hujan abu vulkanik cukup besar di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.

Ada lima kecamatan di Kabupaten Lumajang yang diguyur hujan abu vulkanik, yaitu Kecamatan Candipuro, Kecamatan Pasrujambe, Kecamatan Senduro, Kecamatan Gucialit, dan Kecamatan Pasirian.

Sedangkan kecamatan yang diguyur hujan abu vulkanik di Kabupaten Probolinggo lebih banyak lagi jumlahnya.

Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kuripan, Kecamatan Bantaran, Kecamatan Leces, Kecamatan Tegalsiwalan, Kecamatan Dringu, Kecamatan Banyuanyar, Kecamatan Sumberasih, Kecamatan Wonomerto, dan Kecamatan Sumber.

Menyusul terjadinya erupsi Gunung Semeru, BPBD Jawa Timur mengimbau warga tidak beraktivitas di area dalam radius satu kilometer dari puncak Gunung Semeru dan empat kilometer dari arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gelologi (PVMBG) melaporkan kalau hingga Minggu pagi masih terdengar tiga kali suara letusan atau gemuruh dan terjadi berkali-kali aktivitas kegempaan dari gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Hanya saja menurut Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, secara visual tidak terlihat aktivitas vulkanik di puncak Gunung Semeru.

“Hal ini disebabkan gunung tertutup kabut. Jadi hembusan dan asap kawah tidak teramati,” ujar Hendra.

Related posts

Mayat Terbungkus Plastik Sampah di Bogor, Berjenis Kelamin Perempuan

adminredaksi

Perbatasan Makassar-Gowa Razia Prokes Penerapan PPKM Level IV

admin

Mengenal Desa Wisata Petik Kelengkeng di Sidoarjo Yang Menarik Perhatian Ning Sasha

admin