Kabaratta.com
Nasional

Pelabuhan Bajoe Menyongsong Rute Pusat Pertumbuhan Ekonomi Bone

Kabaratta.com, BONE – Matahari merona jingga mulai menyeruak di ufuk barat, pantulannya tergambar sempurna di permukaan air laut biru nan tenang Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Acap kali lalu berganti lagi, orang-orang yang hanya sekedar datang atau pun berurusan dengan kapal lalu lalang menyusuri lintasan panjang.
“Foto ka’ di sebelah sana, ambil laut dan sunsetnya nah (foto saya di sebelah sana, beserta dengan laut dan sunsetnya ya),” kata seorang remaja perempuan kepada temannya saat baru tiba di Pelabuhan Bajoe menggunakan kendaraan beroda empat bertuliskan Pajero Sport.
Tak hanya sekedar pelabuhan, namun Pelabuhan Bajoe kini menjadi salah satu destinasi wisata laut yang ramai dikunjungi oleh para penyintas Kabupaten Bone maupun Kabupaten/Kota lainnya. 
Tak ayal, hal tersebut karena pelabuhan yang termasuk dalam Daerah Pelayaran VI ini, sejak tahun 2016 telah bertransformasi menjadi pelabuhan rakyat yang besar.
Bayangkan saja, dari gerbang masuk Pelabuhan Bajoe, mata akan dimanjakan dengan suguhan pemandangan laut biru membentang, kapal-kapal tua yang bersandar menghiasi pinggiran lintasan, dan café-café yang berjejer mengusung konsep pantai yang unik. Bahkan menjadi suatu kesyukuran, Pelabuhan Bajoe mendapat anugrah pemandangan matahari terbenam yang sempurna. Semua hal itu tentunya menjadi daya tarik bagi Pelabuhan Bajoe sebagai destinasi wisata.
“Karakter masyarakat Bugis sebagai pelaut yang tangguh kini terwakili dengan dikenalnya Pelabuhan Bajoe sebagai destinasi wisata pula,” ucap Anni, salah satu pengunjung yang datang menikmati pemandangan matahari terbenam di Pelabuhan Bajoe.
Pelabuhan Bajo dulunya merupakan lokasi pelayaran rakyat yang tertinggal dari Pelabuhan Makassar dan Pare-Pare. Akan tetapi, kini menampung aktivitas bongkar muat yang padat sekaligus menjadi titik singgah yang strategis bagi pengiriman komoditas dari pelbagai daerah. Bahkan, Pelabuhan Bajoe menjadi sentra jembatan penghubung jalur laut yang menghubungkan Jawa, Maluku dan Papua.
“Sejak pengembangan fasilitas Pelabuhan Bajoe pada tahun 2013 dan berakhir pada tahun 2016, kejayaan Bone dari segi pertumbuhan ekonomi pun kembali bangkit,” ujar Idrus, seorang penumpang yang sering memanfaatkan layanan kapal di Pelabuhan Bajoe untuk bolak-balik ke Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Menurut Idrus, meningkatnya mobilitas manusia disertai dengan banyaknya komoditas penting di Kabupaten Bone yang harus dikirim ke luar daerah menjadikan Pelabuhan Bajoe sebuah solusi ampuh mempersingkat rantai perjalanan barang dan manusia. 
Menilik data dari Balai Besar KIPM Makassar, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan yang bertanggung jawab kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan, diketahui bahwa mayoritas kapal memuat komoditi perikanan dari dan ke Pelabuhan Bajoe dengan tujuan yakni Pelabuhan Penyeberangan Kolaka (Provinsi Sulawesi Tenggara), Pelabuhan Boepinang (Provinsi Sulawesi Tenggara) dan Pelabuhan Tenau (Provinsi Nusa Tenggara Timur).
Secara umum, komoditi perikanan yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Bajoe lebih didominasi oleh komoditi yang masuk berupa ikan layang segar, udang vennamei segar, dan ikan segar lainnya. 
Sedangkan, untuk komoditi yang keluar daerah didominasi oleh benih udang vennamei, ikan segar dan ikan kering.
Manager Operasi PT Angukatan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Pelabuhan Bajoe, Djumadi menuturkan bahwa Pelabuhan Bajoe memiliki peranan penting mempersingkat jalur distribusi yang semula harus melalui rute perjalanan panjang yakni dari Surabaya, Semarang dan Jakarta lalu ke Makassar, setelah itu dilanjutkan perjalanan darat melalui poros Bone-Makassar.
Perjalanan panjang tersebut menurut Djumadi tentunya dengan konsekuensi membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal pula. Itu pun belum termasuk resiko terkena macet di jalan, cuaca yang buruk dan antrian bongkar muat yang lama.
“Pelabuhan Bajoe membuat jalur distribusi lebih singkat. Langsung dari Jawa, Maluku dan Papua menuju Bone. Dengan begitu, waktu menjadi efisien dan biaya murah. Sehingga dampaknya akan lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Dirinya menambahkan bahwa masyarakat Kabupaten Bone akan merasakan manfaat keberadaan Pelabuhan Bajoe dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Hal itu dikarenakan Pelabuhan Bajo dapat menjadi peluang membuka usaha baru, mempermudah pengiriman komoditas dari Bone ke luar, melayani mobilitas manusia ke berbagai daerah dan menjadi daya tarik bagi para investor asing untuk melakukan bisnis di Bone.
“Pelabuhan kita ini sangat bagus. Tak sekedar pelabuhan tapi juga destinasi wisata. Itu baru tampakan luar, secara pelayanan di dalam, kami juga berusaha mengoptimalkan pelayanan dari seluruh unsur yang bertanggung jawab di Pelabuhan Bajoe,” tambahnya.
Terakhir, ia berharap agar Pelabuhan Bajoe menjadi icon dan pusat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone karena potensi berkembangnya yang sangat tinggi dengan menyadari bahwa seluruh komoditas penting ada di Kabupaten Bone.
“Semua ada di Bone, mulai dari hasil Bumi, pertanian, perkebunan, kerajinan rakyat, sampai hasil tambang. Dan Pelabuhan Bajoe ini akan memudahkan masyarakat Bone untuk mengirim dan menjual komoditas masyarakat Bone itu ke luar daerah,” tutupnya.
Laporan: Andi Fatimah

Related posts

200 Pohon Bunga Tabebuya Siap Hiasi Koarmada II

admin

Komitmen Mengabdi Ke Masyarakat, HMI MPO Cabang Wajo Salurkan Al-qur'an

admin

Ning Sasha Kunjungi UMKM di Kawasan Kecamatan Gedangan

admin